3 min read

Rahmat

Rahmat

Rahmat dan kasih sayang adalah salah satu faktor penting bagi keberhasilan dakwah. Memberikan empati, pengertian, uzur dan pemaafan, merasakan senangnya, merasakan sedihnya dari orang yang ingin kita ajak kepada kebaikan.

Dengan penuh kasih sayang, alangkah baiknya kita disibukkan untuk mendatangkan maslahat bagi para saudara kita sesama muslim, dan mencegahnya dari jatuh kepada kebinasaan. Lunakkan hati agar keluar perbuatan dan perkataan yang penuh kasih sayang dan kerendahan hati.https://salikin.org/rahmat/

Rasulullah amatlah sayang kepada segenap manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir, sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (at-Taubah: 128)

Dalam sebuah riwayat dari Imam Muslim, Umar ra berkata,

Para tawanan diajukan menghadap Rasulullah, ternyata ada seorang wanita di antara tawanan itu, mengiba-iba ketika menemukan seorang bayi diantara para tawanan. Ia mengambilnya, menempelkan ke perutnya lalu menyusuinya, lalu Rasulullah bersabda, “Apakah menurut kalian, wanita ini akan melempar anaknya ke kobaran api?”, kami menjawab, “Tidak demi Allah, di ditakdirkan tidak melemparnya.” Rasulullah bersabda, “Allah lebih rahmat kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.” (Mukhtashar Shahih Muslim Lil Mundziri nomor 1426)

Allah juga merahmati mereka yang bertindak melampaui batas dan bermaksiat kepada-Nya, dengan membuka pintu taubat di hadapan mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka.

Rahmat Allah mendahului murka-Nya, sehingga tidak saya Dia menerima taubat, tetapi juga sangat bergembira dengan taubat mereka, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra berikut ini.

Allah lebih gembira karena taubatnya seorang hamba-Nya yang mukmin, daripada seorang lelaki yang berada di padang sahara yang membinasakan, ia disertai tunggangannya yang di atasnya ada makanan dan minuman. Lalu ia tertidur. Ketika terbangun, ternyata tunggangannya telah pergi. Ia mencari hingga dicekik rasa haus, lalu ia berkata, ‘Aku akan kembali ke tempatku tadi. Aku akan tidur sampai aku mati.’ Ia lalu meletakkan kepala di atas lengannya sembari bersiap menunggu ajalnya. Lalu ketika terbangun disampingnya telah ada tunggangannya kembali lengkap dengan perbekalannya. Allah lebih gembira atas taubat hamba-Nya yang mukmin daripada orang ini yang menemukan kembali tunggangan dan bekalnya. (Mukhtashar Shahih Muslim lil Mundziri no. 1917)

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa lelaki itu ingin bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat itu lantas ia berkata, “Ya Allah, Engkau Hambaku dan Aku Tuhanmu!” Ia berkata begitu lantaran terlalu gembira dan lidahnya terpeleset hingga terbalik ucapannya.

Allah Maha penyayang dan selalu membuka pintu taubat sebanyak apa pun dosa kita, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar [39]: 52)

Oleh karena itu kita pun diajarkan untuk bersikap penyayang dan pemaaf, karena kita pun sangat membutuhkan rahmat dan ampunan dari Allah.

Begitupula yang dilakukan Abu Bakar pada persitiwa hadist ifki (fitnah terhadap Aisyah). Misthah, orang yang terus ia beri nafkah atau santunan turut serta menyebar fitnah mengenai anak tercintanya. Tatkala Allah menurunkan Firman-Nya untuk membebaskan Aisyah dari fitnah, lantas Abu Bakar marah terhadap Mistah dan berniat untuk tidak menafkahinya lagi. Lantas Firman-Nya,

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke lapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya). Orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada di jalan Allah SWT, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nur: 22).

Akhirnya Abu Bakar memaafkan dan tidak menghentikan santunan pada Misthah.

Jadi, taburi sekeliling kita dengan kasih sayang, rasa kasihan, dan empati. Jika kita adalah orang yang berusaha menyebarkan seruan kepada kebaikan, namun dibalas dengan cacian dan hinaan, maafkanlah, semoga Allah juga memaafkan kita, dan menaburi setiap hamba-hamba-Nya dengan rahmat dan ampunan-Nya.